Ask the Tribun Timur Editor
Anda bisa mendapatkan logo Tribun Timur edisi cetak, tribun-timur.com, maupun ikon Tribun di Twitter dan Facebook di http://blogtribuntimur.blogspot.com/
Selengkapnya...
Tuesday, November 3, 2009
Logo Tribun Timur dan tribun-timur.com
Tuesday, October 13, 2009
Dari tribun-timur.com Bertemu Kompasiana
Ask the Tribun Timur Editor
Seorang blogger menemukan kompasiana.com setelah chatting di shout mix tribun-timur.com.
Sumber: http://public.kompasiana.com/2009/10/11/apa-sih-daya-tarik-kompasiana/
Apa Sih Daya Tarik Kompasiana?
Oleh syarif ridwan - 11 Oktober 2009 - Dibaca 382 Kali -
Setahun sudah usia Kompasiana, dan walau saya baru bergabung dengan blog ini sejak Agustus lalu melalui seorang kawan chatting di shout mix Tribun Timur Makassar Online, saya merasa telah mendapatkan banyak hal yang bermanfaat melalui tulisan-tulisan mencerahkan dan bermanfaat yang diposting para Kompasianer yang berasal dari berbagai latar pengetahuan, profesi, pengalaman, ideolgi dan sebagainya. Yang menurut saya dan demikian pula rekan Kompasianer lainnya, tulisan-tulisan tersebut sangat padat ‘gizi’. Ditambah lagi dengan adanya interaksi antara penulis dan penanggap, atau sesama komentator yang terkadang tanggapan dan komentar yang dituliskan juga penuh ‘gizi’. Walau tidak dapat dinafikan adanya tulisan yang sekedar tayang tanpa ‘isi’ atau komentar yang menghujat, memaki dan menyakitkan hati!
Itulah dunia Kompasiana; menawan hati banyak orang dan bahkan terkadang membius, sehingga di antara penulis ada yang rela begadang hingga larut malam sembari ditemani secangkir kopi pahit untuk sekedar menyiapkan sebuah tulisan yang apik dan terbaik. Atau dengan rela hati mengikuti diskusi dan adu argumentasi yang terkadang berbobot dan penuh makna. Lebih menakjubkan lagi, karena tidak satu pun dari tulisan-tulisan bernas dan ber‘gizi’ yang diposting seorang rekan professional, penulis handal, bahkan bergelar Professor itu dibayar oleh pengelola blog ini. Tapi kok mereka mau saja dengan rela dan ikhlas melakukan semua itu, ya? Aneh juga, bukan?!
Lalu dimana letak daya tarik blog ini sesungguhnya hingga membuat rekan Kompasianer dibuat terpesona olehnya? Menurut saya ada beberapa hal:
1- Sangat banya tulisan yang memang padat ‘gizi’, bermanfaat dan mencerahkan, sehingga menarik bagi mereka yang selalu ingin belajar.
2- Blog ini membuka peluang sangat luas bagi siapa pun yang ingin mengasah keterampilannya dalam menulis. Bahkan dari seorang komentator menjadi penulis.
3- Sebagai media belajar melalui tulisan rekan senior yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi dalam menulis.
4- Sebagai media curah gagasan dan ide yang dapat dinikmati banyak orang.
5- Terbangun suasana yang dinamis dan interaktif antara penulis dan penanggap, atau sesama komentator sehingga terbangun persaudaraan.
6- Media awal untuk membangun jaringan persaudaraan yang dilanjutkan dengan kopdar.
7- Sebagai media untuk unjuk gigi dan sebagai ajang para narsis. (Jadi ingat tulisan Pa Budiman Hakim. hehehe…)
8- Ruang untuk menemukan kembali jati diri.
9- Berharap kumpulan tulisannya jadi sebuah buku, mengikuti sukses ‘CROY’ karya pa Chappy Hakim.
Masih adakah daya tarik lainnya? Silahkan ditambah, kawan!
Apa yang saya tuliskan ini sungguh bukan sebuah sanjungan bagi pengelola blog ini. Karena saya yakin mereka juga tidak butuh sanjungan. Tapi ini adalah sebuah fakta betapa banyak penulis berkualitas dengan postingan bergizi tanpa bayaran sepeser pun sudi berbagi ilmu, informasi, pengalaman menarik dan semacamnya di blog ini. Bapak Taufik H. Mihardja pernah menulis bahwa Kompasiana ini adalah wajahmu. Ya, blog ini adalah presentasi wajah kita, wajah dan karakter para penulisnya. Artikulasi bahasa tulisan adalah cermin dari isi kepala, intelektualitas, kecerdasan, kepribadian dan hati kita sekaligus sebagaimana tanggapan Bapak Guru kita, Om Jay pada postingan tersebut.
Saya sangat salut dengan sejumlah rekan yang pada awalnya hanya melihat-lihat saja berbagai tulisan yang menarik, membaca komentar-komentar yang menggelitik, atau dengan seksama mengikuti adu argumentasi yang cantik penuh taktik, akhirnya tertawan untuk sekedar berkomentar walau sangat singkat, dan pada akhirnya ‘terjerumus’ untuk menulis artikel yang bermanfaat. Bukankah itu sebuah proses perubahan yang terjadi tanpa disadari melalui media Kompasiana yang juga berusaha menggiring para pecintanya agar bersahabat lebih erat?
Baru setahun usianya, tapi manfaatnya sudah terasa. Jangan lelah dan putus berkarya, goreskan penamu tuk para pecinta, dari Amerika hingga Autralia, dari Bung Asa hingga Mariska. Disini terjalin persaudaraan mesra Walau tak pernah bertatap muka. Betapa seru Ana dan HASPA, kala keduanya bersilang sengketa, laksana Tomy and Jerry, katanya. Mungkinkah kelak mereka bersua? Kepada para pengelola wa bil khusus Kang Pepih Nugraha , trima kasih kami yang tak terhingga dan maafkan beta bila ada salah kata.
Selamat ulang tahun Kompasiana!
Utan Kayu, 11.10.2209
Selengkapnya...
Tips Meniti Karier Bersama Andrew Nugraha
Ask the Tribun Timur Editor
Andrew Nugraha memposting tulisannya mengenai Tips Meniti Karier yang dimuat di Tribun Timur setiap hari di blognya, http://andrewnugraha.blogspot.com/2009/01/acdi-voca-business-consultation.html
Selengkapnya...
Dari Blogger: Tips Mencari Berita dan Data Terupdate tentang Makassar
Ask the Tribun Timur Editor
Seorang blogger menulis tips di blognya. Semoga bermanfaat:
Tips Mencari Berita dan Data Terupdate tentang Makassar
September 27, 2009 in Uncategorized
Sumber: http://dekygitue.wordpress.com
Tips Mencari Berita, Tribun Timur, Makassar
Dokumentasi surat kabar Tribun Timur, Makassar
Masuk ke alamat tribun-timur.com.tribun-timur.com. Klik salah satu berita.
Setelah halaman baru terbuka, perhatian bagian atas. Di sana ada tools Google Search Engine.
Ada dua opsi: Web dan tribun-timur.com. Bila Anda hendak mencari “Makassar” di dunia web, klik dot di kanan tulisanm “Web” setelah memasukan kata kunci (keywords).
Bila Anda hanya ingin mencari berita-berita Tribun Timur, klik dot di sebelah kiri tribun-timur.com.
Selengkapnya...
Saturday, October 10, 2009
Murdoch vs Google si Pencuri Berita
Ask the Tribun Timur Editor
Sumber: tribun-timur.com
Murdoch Minta Google Membayar Berita
Laporan: Kompas.com/KSP/Antara
Jumat, 9 Oktober 2009 | 23:47 WITA
BEIJING, TRIBUN - Raja Media dan pemilik News Corporation, Rupert Murdoch, meminta mesin pencari internet seperti Google dan website lain untuk membayar berita dan artikel yang selama ini mereka terima secara gratis.
Berbicara pada KTT Media Sedunia di Beijing, Jumat, yang dihadiri 300 pemilik dan CEO media termasuk Direktur Utama Perum LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf dari Indonesia, Murdoch menuding Google dan website serupa sebagai parasit di internet.
Menurut dia, konten aggregator di internet telah mencuri berita dan artikel dari perusahaan media tradisional dan kantor berita. "Saatnya kini mereka membayar," katanya lantang di atas podium.
Wakil Presiden Google Inc, John Liu, yang hadir dalam acara yang dibuka Presiden China Hu Jintaou itu, manggut-manggut saja mendengar ’serangan’ dari Murdoch yang belakangan ini berkampanye agar website membayar pemilik konten.
"Jika kita tidak ambil kesempatan dari KTT Media Sedunia ini agar konten di internet itu dibayar, maka kita yang hadir di ruangan ini, yang akan membayar mahal akibatnya dan si pencuri konten, si kleptomaniak, yang akan menang," kata Murdoch lagi.
Kali ini, tepuk tangan riuh terdengar dari hadirin yang adalah kebanyakan pimpinan kantor berita, termasuk Ahmad Mukhlis Yusuf yang juga menjabat sebagai Presiden Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (OANA). Mukhlis tampak bertepuk tangan, sementara John Liu makin serius mendengarkan pidato Murdoch.
Banyak kantor berita yang mengeluh karena konten aggregator mengutip berita, foto, dan video mereka, tanpa izin dan tanpa bayaran.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh CEO kantor berita Associated Press dari Amerika Serikat, Tom Curley. Ia mengajak para penyedia konten untuk beritndak cepat dan tegas terhadap para pencuri berita. "Kita para penyedia konten terlalu lamban bereaksi atas eksploitasi berita oleh pihak ketiga tanpa izin," kata Curley.
Mesin pencari di internet seperti Google, Wikipedia, YouTube dan Facebook telah menjadi tujuan utama dan acuan para pelanggan untuk mencari berita utama yang sesungguhnya berasal dari penerbit tradisional.
"Kita para penyedia konten harus cepat dan bertindak tegas untuk mengambil kembali kendali kita atas konten yang kita produksi," ujar Curley.
"Kita tidak bisa lagi menoleransi keadaan ini. Wartawan yang mengabdikan dirinya, bahkan menghadapi risiko nyawanya ketika mencari berita untuk kepentingan publik, harus dibela dari pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari kerja keras mereka tanpa membayar," demikian Tom Curley.(*)
Sumber: kompas.com
Rupert Murdoch Akan Buat Layanan "Online" Berbayar
Jumat, 18 September 2009 | 14:45 WIB
CAMBRIDGE, KOMPAS.com — Perusahaan-perusahaan penerbit berita umum bakal kerepotan sendiri kalau berencana membuat layanan berbayar dalam bisnis online. Pasalnya, menurut Eric Schmidt, CEO Google Inc, ada terlalu banyak layanan gratis yang tersedia secara online.
Schmidt, yang berbicara lewat video link dengan para eksekutif perusahaan broadcasting Inggris, melihat memang ada kemungkinan ada juga celah sempit untuk para penyedia layanan supaya bisa berhasil. "Tapi secara umum, model ini tidak bisa berjalan untuk konsumsi publik karena ada begitu banyak layanan gratis yang membuat layanan berbayar jadi terpinggirkan," tutur Schmidt, yang menanggapi keinginan CEO News Corp Rupert Murdoch yang akan mulai menarik biaya untuk layanan online-nya.
“Jadi dugaan saya, pasarnya sangat sempit dan untuk pasar para spesialis. Bisa saja melakukan hal ini, tapi saya pikir Anda tidak akan bisa memberlakukannya untuk semua jenis berita,” tambah Schmidt.
Murdoch, konglomerat yang merajai bisnis pers termasuk New York Post, Britain’s Sun, dan juga The London Times, menyatakan akan mulai membuat semua layanan beritanya berbayar di pertengahan tahun depan.
The Wall Street Journal yang dibeli News Corp pada tahun 2007 adalah salah satu surat kabar yang membuat pembacanya membayar untuk bisa menikmati layanan online-nya. (Djumyati Partawidjaja/Kontan)
Selengkapnya...
Thursday, October 8, 2009
Demi Pembaca, Tribun Timur Telat Beredar di Makassar
Ask the Tribun Timur Editor
MAKASSAR, TRIBUN - Demi untuk memenuhi kebutuhan pembaca, Tribun Timur menunggu hasil akhir Munas Golkar di Pekanbaru hingga pukul 05.00 subuh tadi. Aburizal Bakrie terpilih sebagai ketua umum dan Tribun Timur edisi cetak muncul dengan judul headline "Ical Terpilih Pimpin Golkar".
Untuk pembaca di luar Makassar, pembaca akan menemukan Tribun Timur sesi pertama yang berbeda dengan pembaca Makassar. Judul untuk pembaca Makassar adalah "Munas Ricuh, Kalla Berdiri".
Munas Golkar berlangsung panjang dan menegangkan. Proses pemilihan ketua umum partai kedua terbesar di Indonesia itu, yang diwarnai kericuhan, baru berlangsung sekitar pukul 22.00 WIB atau pukul 23.00 wita di Makassar, kantor pusat Tribun Timur.
Redaksi di Makassar terus berkomunikasi dengan reporter Tribun yang dikirim untuk meliput munas, Mansyur AM, untuk menyusun skenario penerbitan Tribun Timur edisi hari ini.
Kesimpulannya, Tribun Timur harus terbit dengan dua versi. Versi pertama dengan jadwal deadline normal untuk pembaca di luar Makassar. Sedangkan versi kedua, dengan jadwal deadline yang molor hingga pukul 05.00, berisi headline hasil Munas Golkar, khusus untuk pembaca Makassar.
Karena itu, pembaca Makassar menerima Tribun Timur lebih lambat dari biasanya, namun dengan laporan terbaru berupa hasil akhir Munas Golkar yang memenangkan Aburizal Bakrie.
Bagi Tribun Timur, terbit dua versi seperti ini bukan yang pertama. Pada liputan Munas Golkar di Bali, yang berlangsung hingga menjelang subuh, Tribun Timur juga terbit dengan dua versi. Kami semua begadang di kantor hingga pagi demi untuk mengantarkan berita terbaru dan terhangat kepada pembaca, khususnya di Makassar.
Mohon maaf atas keterlambatan ini.
Salam dari kami.
Selengkapnya...
Kesempatan Berkarir di Tribun
Ask the Tribun Timur Editor
sumber: tribun-timur.com
Kesempatan Berkarir di Tribun
Laporan: Ina Maharani, tribuntimurcom@yahoo.com
Selasa, 6 Oktober 2009 | 19:32 WITA
MAKASSAR, TRIBUN -- Jaringan koran daerah terkemuka di Indonesia memberi kesempatan seluas-luasnya kepada tenaga-tenaga profesional yang dinamis dan berani menerima tantangan untuk tiga posisi.
Yakni:
* Wartawan (Kode : WART)
Pria / wanita, usia maksimal 25 tahun, pendidikan S-1 segala jurusan, menguasai komputer (khususnya program-program MS Office), fasih berbahasa Inggris, dan tertarik dengan dunia jurnalistik.
* Operator Cetak (Kode : OC)
Pria, usia maksimal 25 tahun, pendidikan minimal SMK Grafika
* Operator Pracetak (Kode : MON)
Pria, usia maksimal 25 tahun, pendidikan minimal SMK Grafika
Kirimkan curriculum vitae Anda paling lambat 1 (satu) minggu setelah iklan ini dimuat melalui pos ke Bag. PSDM Harian TRIBUN TIMUR Jl. Cenderawasih no. 430 Makassar atau via e-mail ke smaryant@gmail.com
Hanya lamaran yang memenuhi syarat yang akan diproses lebih lanjut, dan lamaran yang telah dikirim tidak bisa diminta kembali.(*)
Selengkapnya...
Wednesday, October 7, 2009
New Wave Marketing Hermawan Kartajaya di Tribun Timur
Ask the Tribun Timur Editor
Ahli marketing Hermawan Kartajaya mengizinkan Tribun Timur untuk membuat secara bersambung tulisan-tulisan inspiratifnya dengan tema pokok New Wave Marketing. Artikel tersebut bisa pula diikuti pembaca tribun-timur.com. Peminatnya lumayan banyak.
Selengkapnya...


