Search Dahlan Blog

Saturday, November 28, 2009

Artikel "Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century" Ramai di Blog

Ask the Tribun Timur Editor
Tulisan saya, "Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century" yang dimuat di Tribun Timur edisi cetak maupun tribun-timur.com, tanpa diduga, disebarluaskan melalui Facebook dan blog. Ada juga yang mempostingnya ke kompasiana.com dan forum diskusi detik.com.
Di kompasiana.com, menurut cerita teman, tulisan itu pernah menjadi salah satu tulisan terpopuler hanya beberapa saat setelah di-posting. Komentarnya cukup banyak.
Komentar juga banyak di situs eramuslim.com.




Selengkapnya:

http://zh-tw.facebook.com/note.php?note_id=185488263612


http://nusantaranews.wordpress.com/2009/11/25/cerita-jusuf-kalla-tentang-bank-century/


http://nusantaranews.wordpress.com/2009/11/25/cerita-jusuf-kalla-tentang-bank-century/

http://politik.kompasiana.com/2009/11/26/cerita-jusuf-kalla-tentang-bank-century/

http://forum.detik.com/showthread.php?t=128583



http://www.eramuslim.com/dialog/comment/cerita-jusuf-kalla-tentang-bank-century

http://www.forumbebas.com/thread-93952.html

http://sempak09.multiply.com/reviews/item/2/Cerita_Jusuf_Kalla_tentang_Bank_Century?replies_read=11

http://www.lintasberita.com/Nasional/Politik/cerita-jusuf-kalla-tentang-bank-century


http://harisaryono.wordpress.com/2009/11/26/yuk-ikutin-cerita-bank-century-versi-jusuf-kalla/






Selengkapnya...

Thursday, November 26, 2009

Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century

Ask the Tribun Timur Editor
Sumber: http://www.tribun-timur.com/read/artikel/59796
Cerita Jusuf Kalla tentang Bank Century
Catatan Dahlan, wartawan Tribun
Rabu, 25 November 2009 | 01:02 WITA

13 November 2008. Pagi. Bank Century kolaps, bangkrut. Bank itu kalah kliring. Sore harinya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama rombongan, termasuk Menteri Keuangan Sri Mulyani, terbang menuju Washington, Amerika Serikat, untuk menghadiri pertemuan G-20.






Sri Mulyani melaporkan kondisi Bank Century kepada SBY, 14 November. Hari itu juga, Sri Mulyani kembali ke Tanah Air. Tiba 17 November. Keadaan gawat. Sejumlah tindakan genting harus diambil.
Sejumlah rapat dengan Gubernur Bank Indonesia ketika itu, Boediono, harus segera digelar.

***

PUKUL 03.30 waktu Jakarta, Rabu, 26 November 2008. Udara terasa dingin. Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, sepi. Pesawat Airbus A330-341 mendarat dengan mulus.
Setelah melewati penerbangan meletihkan 30 jam dari Lima, Peru, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan rombongan turun dari pesawat.
Wakil Presiden Jusuf Kalla menyambut SBY dan rombongan di tangga pesawat. Kalla bukan hanya siap menyambut, melainkan juga siap melaporkan perkembangan di Tanah Air selama presiden ke luar negeri.
Selama SBY melakukan misi 16 hari di luar negeri (ke Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, dan Peru), Kalla memimpin negara dan pemerintahan. Karena itu, ia segera melaporkan perkembangan di Tanah Air begitu pemberi mandat tiba.
Banyak yang dilaporkan. Salah satunya soal Bank Century. Ia melaporkan bagaimana Sri Mulyani dan Boediono menangani Bank Century.
Kalla juga melaporkan, "Saya sudah memerintahkan Kapolri untuk menangkap Robert Tantular (pemilik Bank Century). Ini perampokan."
"Baik, baik ...," begitu reaksi presiden seperti dikutip Kalla ketika menceritakan kisah tersebut di Studio Trans Kalla, Tanjung Bunga, Makassar, Selasa (24/11).
Kalla terlihat lebih gemuk. Berat badannya naik dua kilo sejak lepas dari kesibukan sebagai wakil presiden, 20 Oktober lalu.
Dengan air muka yang cerah, Kalla berkata: "Sekarang tanggal 24 (November). Besok tanggal 25, persis setahun ketika Ani (Sri Mulyani) dan Boediono melaporkan Bank Century di kantor saya."

***

ISTANA Wakil Presiden RI, Jakarta, pukul 16.00 WIB, Selasa, 25 November 2008. Kalla ingat persis tanggal ini, lengkap dengan harinya.
Ketika itu, ditemani stafnya masing-masing, Sri Mulyani dan Boediono melapor kepadanya mengenai Bank Century. Mereka harus melapor ke wapres karena presiden sedang di luar negeri. Pemilu presiden masih setahun lagi dan hubungan SBY-Kalla masih mesra.
"Apa? Bantuan? Kenapa harus dibantu. Ini perampokan," kata Kalla dengan suara keras ketika Sri Mulyani dan Boediono melaporkan "upaya penyelamatan" Bank Century.
Belum ada yang menduga bahwa kelak Boediono akan berpasangan dengan SBY, dan menang. Kalla adalah bos ketika itu.
Menurut Kalla, kedua pejabat itu melaporkan bahwa Bank Century menghadapi masalah besar. Masalah muncul karena krisis ekonomi global. Karena itu, Bank Century harus dibantu pemerintah dengan cara mengucurkan dana bailout (talangan).
Bila tidak dibantu, demikian kedua pejabat itu meyakinkan Kalla, masalah Bank Century akan berimbas ke bank-bank lainnya. Pada akhirnya, perekonomian nasional akan oleng.
"Saya tidak setuju dengan pandangan itu. Krisis itu menghantam banyak orang. Masak ada badai cuma satu rumah yang kena. Tidak. Bila hanya Bank Century yang kena, itu bukan krisis. Yang bermasalah adalah Bank Century dan itu bukan karena krisis melainkan karena uang bank itu dirampok pemiliknya sendiri. Ini perampokan!" Kalla berteriak dengan keras.
"Lapor ke polisi," perintah Kalla kepada Sri Mulyani dan Boediono. "Sangat jelas, ini perampokan. Jangan berikan dana talangan."
Sri Mulyani dan Boediono tidak berani. Bahkan mereka sempat bertanya, pasal apa yang akan dikenakan.
"Itu urusan polisi. Pokoknya ini perampokan," teriak Kalla lagi.
Karena melihat Sri Mulyani dan Boediono tidak menunjukkan gelagat akan memproses kasus ini secara hukum, Kalla lalu mengambil handphone-nya, menelepon Kapolri Bambang Hendarso Danuri.
"Tangkap Robert Tantular...," teriaknya kepada Kapolri. Setelah menjelaskan secara singkat latar belakangan masalah, Kalla memerintahkan, "Tangkap secepatnya".
"Saya tidak tahu pasal apa yang harus dikenakan. Ini perampokan, tangkap. Soal pasal urusan polisi," cerita Kalla sambil tertawa.
Dua jam kemudian, Kapolri menelepon. Robert Tantular telah ditangkap oleh tim yang dipimpin Kabareskrim Susno Duaji.
Mengingat kecepatan polisi bertindak, dengan nada berkelakar, Kalla mengatakan, polisi itu baik asal diperintah untuk tujuan kebaikan.

***

DI ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, 3 September 2009, Robert Tantular diadili. Ketika membacakan duplik, pengacaranya, Bambang Hartono, memprotes Kalla.
Ia menilai Kalla telah mengintervensi hukum karena memerintahkan Kapolri untuk menangkap kliennya.
"Tindakan tersebut bertentangan dengan hak asasi manusia," protes sang pengacara.
Menurut Bambang, penangkapan Robert Tantular tidak memiliki dasar hukum. Ia mengutip Boediono: "Pak Boediono selaku Gubernur BI mengatakan bahwa tidak bisa dilakukan penangkapan karena tidak ada dasar hukumnya."
Mendengar protes pengacara itu, Kalla memberikan reaksi keras. Bahkan terus terang ia mengaku sangat marah.
Kata Kalla, "Saya marah karena saya disebut mengintervensi. Tidak. Saya tidak intervensi. Yang benar, saya memerintahkan polisi agar Robert Tantular ditangkap. Ini perampokan," katanya sambil tertawa.
Robert telah merugikan Bank Century, yang tentu saja ditanggung nasabahnya, sebesar Rp 2,8 triliun.
Bank yang "dirampok" pemiliknya sendiri itu justru mendapatkan bantuan pemerintah, melalui tangan Sri Mulyani dan Boediono, sebesar Rp 6,7 triliun.
Pengadilan memvonis Robert penjara empat tahun dan denda Rp 50 miliar/subsider lima bulan penjara.

***

24 November 2009. Kalla kini bernapas lega karena apa yang diyakininya sebagai perampokan di Bank Century pelan-pelan terkuak.
Hari Selasa kemarin, ia bangun pagi seperti biasa, membersihkan taman di depan rumahnya di Jl Haji Bau, Makassar. Enam anggota Paspampres (tiga dari Bugis), yang akan mengawalnya sepanjang hayat, juga ikut santai.
Satu demi satu ranting pohon dibersihkan. Sebuah pohon kira-kira setinggi dua meter yang bibitnya didatangkan dari Pretoria, Afrika Selatan, ikut dipangkas.
Nyonya Mufidah, istrinya, protes. "Aduh, Bapak ini tidak ngerti seni," komentar wanita Minang ini tentang pohon-pohon yang dipangkas.
Kalla membela diri. "Kalau daunnya banyak, pohon ini tidak bisa lekas besar karena makannya dibagi ke banyak daun. Kalau daunnya sedikit, makanannya dibagi ke sedikit daun. Pasti lebih cepat tumbuh."
Kalla berada di Makassar sepekan terakhir setelah pulang dari liburan di Eropa usai melepas jabatan. Di Makassar ia menghabiskan waktu dengan berdiskusi dengan kolega-koleganya, bermain dengan cucu, dan menikmati makanan kesukaannya, ikan.
Di belakang rumahnya, ia menikmati pohon yang buahnya delapan jenis. Kemarin ia makan siang di sebuah restoran sea food, lalu ke Studio Trans Kalla. Warga yang melihatnya spontan berteriak dan minta foto bersama. Paspampres lebih longgar dari biasanya.
Kalla ingin menikmati hidup sebagai rakyat biasa dan menghindari komentar tentang politik. Tapi kasus Bank Century, yang menguras kas negara Rp 6,7 triliun, terus menggodanya untuk berbicara.
"Saya tidak ingin rakyat terus menerus dikorbankan," katanya berapi-api tapi dengan banyak sekali komentar off the record (tidak untuk dipublikasikan).

***

KALLA ingat persis peristiwa tanggal 25 November 2008 itu. Hari itu Selasa sore. Sri Mulyani dan Boediono sama sekali tidak melaporkan berapa dana yang telah dikucurkan ke Bank Century.
Belakangan ia tahu, sesuatu yang aneh telah terjadi. Sri Mulyani dan Boediono telah membahas rencana pengucuran dana talangan ke Bank Century melalui rapat pada 20 dan 21 November.
Lembaga Penjaminan Simpanan (LPS) mengucurkan dana Rp 2,7 triliun (dari total keseluruhan Rp 6,7 tiliun) ke Bank Century pada 22 November.
Tanggal itu merupakan tanggal merah karena hari Minggu. Sepertinya ada yang begitu mendesak sehingga LPS mengucurkan dana pada hari libur, hari Minggu. Tidak sembarang orang bisa memaksa transaksi sebegitu besar, apalagi pada hari libur.
Sri Mulyani dan Boediono melapor ke Kalla pada 25 November setelah dana mengucur, bukan sebelumnya.
Hasil audit investigatif BPK juga menemukan beberapa keanehan. Misalnya, BI yang dikomandoi Boediono melanggar aturan yang dibuat sendiri demi Bank Century.
Kalla belum mau bercerita mengenai keanehan-keanehan itu. Yang kelihatannya masih samar-samar adalah ini: ada kekuatan besar di balik Boediono dan Sri Mulyani.(dahlan)



Selengkapnya...

Tuesday, November 3, 2009

Logo Tribun Timur dan tribun-timur.com

Ask the Tribun Timur Editor
Anda bisa mendapatkan logo Tribun Timur edisi cetak, tribun-timur.com, maupun ikon Tribun di Twitter dan Facebook di http://blogtribuntimur.blogspot.com/





Selengkapnya...

Tuesday, October 13, 2009

Dari tribun-timur.com Bertemu Kompasiana

Ask the Tribun Timur Editor

Seorang blogger menemukan kompasiana.com setelah chatting di shout mix tribun-timur.com.
Sumber: http://public.kompasiana.com/2009/10/11/apa-sih-daya-tarik-kompasiana/

Apa Sih Daya Tarik Kompasiana?
Oleh syarif ridwan - 11 Oktober 2009 - Dibaca 382 Kali -

Setahun sudah usia Kompasiana, dan walau saya baru bergabung dengan blog ini sejak Agustus lalu melalui seorang kawan chatting di shout mix Tribun Timur Makassar Online, saya merasa telah mendapatkan banyak hal yang bermanfaat melalui tulisan-tulisan mencerahkan dan bermanfaat yang diposting para Kompasianer yang berasal dari berbagai latar pengetahuan, profesi, pengalaman, ideolgi dan sebagainya. Yang menurut saya dan demikian pula rekan Kompasianer lainnya, tulisan-tulisan tersebut sangat padat ‘gizi’. Ditambah lagi dengan adanya interaksi antara penulis dan penanggap, atau sesama komentator yang terkadang tanggapan dan komentar yang dituliskan juga penuh ‘gizi’. Walau tidak dapat dinafikan adanya tulisan yang sekedar tayang tanpa ‘isi’ atau komentar yang menghujat, memaki dan menyakitkan hati!



Itulah dunia Kompasiana; menawan hati banyak orang dan bahkan terkadang membius, sehingga di antara penulis ada yang rela begadang hingga larut malam sembari ditemani secangkir kopi pahit untuk sekedar menyiapkan sebuah tulisan yang apik dan terbaik. Atau dengan rela hati mengikuti diskusi dan adu argumentasi yang terkadang berbobot dan penuh makna. Lebih menakjubkan lagi, karena tidak satu pun dari tulisan-tulisan bernas dan ber‘gizi’ yang diposting seorang rekan professional, penulis handal, bahkan bergelar Professor itu dibayar oleh pengelola blog ini. Tapi kok mereka mau saja dengan rela dan ikhlas melakukan semua itu, ya? Aneh juga, bukan?!

Lalu dimana letak daya tarik blog ini sesungguhnya hingga membuat rekan Kompasianer dibuat terpesona olehnya? Menurut saya ada beberapa hal:

1- Sangat banya tulisan yang memang padat ‘gizi’, bermanfaat dan mencerahkan, sehingga menarik bagi mereka yang selalu ingin belajar.

2- Blog ini membuka peluang sangat luas bagi siapa pun yang ingin mengasah keterampilannya dalam menulis. Bahkan dari seorang komentator menjadi penulis.

3- Sebagai media belajar melalui tulisan rekan senior yang sudah memiliki jam terbang yang tinggi dalam menulis.

4- Sebagai media curah gagasan dan ide yang dapat dinikmati banyak orang.

5- Terbangun suasana yang dinamis dan interaktif antara penulis dan penanggap, atau sesama komentator sehingga terbangun persaudaraan.

6- Media awal untuk membangun jaringan persaudaraan yang dilanjutkan dengan kopdar.

7- Sebagai media untuk unjuk gigi dan sebagai ajang para narsis. (Jadi ingat tulisan Pa Budiman Hakim. hehehe…)

8- Ruang untuk menemukan kembali jati diri.

9- Berharap kumpulan tulisannya jadi sebuah buku, mengikuti sukses ‘CROY’ karya pa Chappy Hakim.

Masih adakah daya tarik lainnya? Silahkan ditambah, kawan!

Apa yang saya tuliskan ini sungguh bukan sebuah sanjungan bagi pengelola blog ini. Karena saya yakin mereka juga tidak butuh sanjungan. Tapi ini adalah sebuah fakta betapa banyak penulis berkualitas dengan postingan bergizi tanpa bayaran sepeser pun sudi berbagi ilmu, informasi, pengalaman menarik dan semacamnya di blog ini. Bapak Taufik H. Mihardja pernah menulis bahwa Kompasiana ini adalah wajahmu. Ya, blog ini adalah presentasi wajah kita, wajah dan karakter para penulisnya. Artikulasi bahasa tulisan adalah cermin dari isi kepala, intelektualitas, kecerdasan, kepribadian dan hati kita sekaligus sebagaimana tanggapan Bapak Guru kita, Om Jay pada postingan tersebut.

Saya sangat salut dengan sejumlah rekan yang pada awalnya hanya melihat-lihat saja berbagai tulisan yang menarik, membaca komentar-komentar yang menggelitik, atau dengan seksama mengikuti adu argumentasi yang cantik penuh taktik, akhirnya tertawan untuk sekedar berkomentar walau sangat singkat, dan pada akhirnya ‘terjerumus’ untuk menulis artikel yang bermanfaat. Bukankah itu sebuah proses perubahan yang terjadi tanpa disadari melalui media Kompasiana yang juga berusaha menggiring para pecintanya agar bersahabat lebih erat?

Baru setahun usianya, tapi manfaatnya sudah terasa. Jangan lelah dan putus berkarya, goreskan penamu tuk para pecinta, dari Amerika hingga Autralia, dari Bung Asa hingga Mariska. Disini terjalin persaudaraan mesra Walau tak pernah bertatap muka. Betapa seru Ana dan HASPA, kala keduanya bersilang sengketa, laksana Tomy and Jerry, katanya. Mungkinkah kelak mereka bersua? Kepada para pengelola wa bil khusus Kang Pepih Nugraha , trima kasih kami yang tak terhingga dan maafkan beta bila ada salah kata.

Selamat ulang tahun Kompasiana!

Utan Kayu, 11.10.2209



Selengkapnya...

Tips Meniti Karier Bersama Andrew Nugraha

Ask the Tribun Timur Editor
Andrew Nugraha memposting tulisannya mengenai Tips Meniti Karier yang dimuat di Tribun Timur setiap hari di blognya, http://andrewnugraha.blogspot.com/2009/01/acdi-voca-business-consultation.html






Selengkapnya...

Dari Blogger: Tips Mencari Berita dan Data Terupdate tentang Makassar

Ask the Tribun Timur Editor

Seorang blogger menulis tips di blognya. Semoga bermanfaat:

Tips Mencari Berita dan Data Terupdate tentang Makassar

September 27, 2009 in Uncategorized

Sumber: http://dekygitue.wordpress.com

Tips Mencari Berita, Tribun Timur, Makassar
Dokumentasi surat kabar Tribun Timur, Makassar

Masuk ke alamat tribun-timur.com.tribun-timur.com. Klik salah satu berita.

Setelah halaman baru terbuka, perhatian bagian atas. Di sana ada tools Google Search Engine.

Ada dua opsi: Web dan tribun-timur.com. Bila Anda hendak mencari “Makassar” di dunia web, klik dot di kanan tulisanm “Web” setelah memasukan kata kunci (keywords).

Bila Anda hanya ingin mencari berita-berita Tribun Timur, klik dot di sebelah kiri tribun-timur.com.






Selengkapnya...

Saturday, October 10, 2009

Murdoch vs Google si Pencuri Berita

Ask the Tribun Timur Editor

Sumber: tribun-timur.com

Murdoch Minta Google Membayar Berita
Laporan: Kompas.com/KSP/Antara
Jumat, 9 Oktober 2009 | 23:47 WITA

BEIJING, TRIBUN - Raja Media dan pemilik News Corporation, Rupert Murdoch, meminta mesin pencari internet seperti Google dan website lain untuk membayar berita dan artikel yang selama ini mereka terima secara gratis.




Berbicara pada KTT Media Sedunia di Beijing, Jumat, yang dihadiri 300 pemilik dan CEO media termasuk Direktur Utama Perum LKBN Antara Ahmad Mukhlis Yusuf dari Indonesia, Murdoch menuding Google dan website serupa sebagai parasit di internet.

Menurut dia, konten aggregator di internet telah mencuri berita dan artikel dari perusahaan media tradisional dan kantor berita. "Saatnya kini mereka membayar," katanya lantang di atas podium.

Wakil Presiden Google Inc, John Liu, yang hadir dalam acara yang dibuka Presiden China Hu Jintaou itu, manggut-manggut saja mendengar ’serangan’ dari Murdoch yang belakangan ini berkampanye agar website membayar pemilik konten.

"Jika kita tidak ambil kesempatan dari KTT Media Sedunia ini agar konten di internet itu dibayar, maka kita yang hadir di ruangan ini, yang akan membayar mahal akibatnya dan si pencuri konten, si kleptomaniak, yang akan menang," kata Murdoch lagi.

Kali ini, tepuk tangan riuh terdengar dari hadirin yang adalah kebanyakan pimpinan kantor berita, termasuk Ahmad Mukhlis Yusuf yang juga menjabat sebagai Presiden Organisasi Kantor Berita Asia Pasifik (OANA). Mukhlis tampak bertepuk tangan, sementara John Liu makin serius mendengarkan pidato Murdoch.

Banyak kantor berita yang mengeluh karena konten aggregator mengutip berita, foto, dan video mereka, tanpa izin dan tanpa bayaran.

Hal yang sama juga dikemukakan oleh CEO kantor berita Associated Press dari Amerika Serikat, Tom Curley. Ia mengajak para penyedia konten untuk beritndak cepat dan tegas terhadap para pencuri berita. "Kita para penyedia konten terlalu lamban bereaksi atas eksploitasi berita oleh pihak ketiga tanpa izin," kata Curley.

Mesin pencari di internet seperti Google, Wikipedia, YouTube dan Facebook telah menjadi tujuan utama dan acuan para pelanggan untuk mencari berita utama yang sesungguhnya berasal dari penerbit tradisional.

"Kita para penyedia konten harus cepat dan bertindak tegas untuk mengambil kembali kendali kita atas konten yang kita produksi," ujar Curley.

"Kita tidak bisa lagi menoleransi keadaan ini. Wartawan yang mengabdikan dirinya, bahkan menghadapi risiko nyawanya ketika mencari berita untuk kepentingan publik, harus dibela dari pihak-pihak yang mendapat keuntungan dari kerja keras mereka tanpa membayar," demikian Tom Curley.(*)

Sumber: kompas.com

Rupert Murdoch Akan Buat Layanan "Online" Berbayar

Jumat, 18 September 2009 | 14:45 WIB

CAMBRIDGE, KOMPAS.com — Perusahaan-perusahaan penerbit berita umum bakal kerepotan sendiri kalau berencana membuat layanan berbayar dalam bisnis online. Pasalnya, menurut Eric Schmidt, CEO Google Inc, ada terlalu banyak layanan gratis yang tersedia secara online.

Schmidt, yang berbicara lewat video link dengan para eksekutif perusahaan broadcasting Inggris, melihat memang ada kemungkinan ada juga celah sempit untuk para penyedia layanan supaya bisa berhasil. "Tapi secara umum, model ini tidak bisa berjalan untuk konsumsi publik karena ada begitu banyak layanan gratis yang membuat layanan berbayar jadi terpinggirkan," tutur Schmidt, yang menanggapi keinginan CEO News Corp Rupert Murdoch yang akan mulai menarik biaya untuk layanan online-nya.

“Jadi dugaan saya, pasarnya sangat sempit dan untuk pasar para spesialis. Bisa saja melakukan hal ini, tapi saya pikir Anda tidak akan bisa memberlakukannya untuk semua jenis berita,” tambah Schmidt.

Murdoch, konglomerat yang merajai bisnis pers termasuk New York Post, Britain’s Sun, dan juga The London Times, menyatakan akan mulai membuat semua layanan beritanya berbayar di pertengahan tahun depan.

The Wall Street Journal yang dibeli News Corp pada tahun 2007 adalah salah satu surat kabar yang membuat pembacanya membayar untuk bisa menikmati layanan online-nya. (Djumyati Partawidjaja/Kontan)



Selengkapnya...

Thursday, October 8, 2009

Demi Pembaca, Tribun Timur Telat Beredar di Makassar

Ask the Tribun Timur Editor
MAKASSAR, TRIBUN - Demi untuk memenuhi kebutuhan pembaca, Tribun Timur menunggu hasil akhir Munas Golkar di Pekanbaru hingga pukul 05.00 subuh tadi. Aburizal Bakrie terpilih sebagai ketua umum dan Tribun Timur edisi cetak muncul dengan judul headline "Ical Terpilih Pimpin Golkar".



Untuk pembaca di luar Makassar, pembaca akan menemukan Tribun Timur sesi pertama yang berbeda dengan pembaca Makassar. Judul untuk pembaca Makassar adalah "Munas Ricuh, Kalla Berdiri".

Munas Golkar berlangsung panjang dan menegangkan. Proses pemilihan ketua umum partai kedua terbesar di Indonesia itu, yang diwarnai kericuhan, baru berlangsung sekitar pukul 22.00 WIB atau pukul 23.00 wita di Makassar, kantor pusat Tribun Timur.

Redaksi di Makassar terus berkomunikasi dengan reporter Tribun yang dikirim untuk meliput munas, Mansyur AM, untuk menyusun skenario penerbitan Tribun Timur edisi hari ini.

Kesimpulannya, Tribun Timur harus terbit dengan dua versi. Versi pertama dengan jadwal deadline normal untuk pembaca di luar Makassar. Sedangkan versi kedua, dengan jadwal deadline yang molor hingga pukul 05.00, berisi headline hasil Munas Golkar, khusus untuk pembaca Makassar.

Karena itu, pembaca Makassar menerima Tribun Timur lebih lambat dari biasanya, namun dengan laporan terbaru berupa hasil akhir Munas Golkar yang memenangkan Aburizal Bakrie.

Bagi Tribun Timur, terbit dua versi seperti ini bukan yang pertama. Pada liputan Munas Golkar di Bali, yang berlangsung hingga menjelang subuh, Tribun Timur juga terbit dengan dua versi. Kami semua begadang di kantor hingga pagi demi untuk mengantarkan berita terbaru dan terhangat kepada pembaca, khususnya di Makassar.

Mohon maaf atas keterlambatan ini.

Salam dari kami.



Selengkapnya...